In the name of Allah the Most Gracious and the Most Merciful :)
Ini adalah catatan hati , ditulis daripada hati menggunakan
uslubnya tersendiri . sebelum ia menyapa minda kalian , biarlah ia berteleku di
jiwa agar damainya bersimpuh dan tenangnya melingkar . monolog tidak henti –
henti bercempera di kolong atma jika
arca ini tidak dileburkan . biar panas kalimantang terasa perih di ubunku ,
puntung jari tetap setia menaip cebisan arca itu .
Bunyi angin bayu musim luruh membawa gemersik suaramu walau hakikatnya engkau tidak pernah hadir
dalam figura asal . Hanya aku yang bermain dengan illusi . jauh di kolong atma
, aku merasakan engkau hadir dengan seribu persoalan . lantas , aku datang
dengan wajah seorang kawan yang tidak minta dikasihi dan tidak minta dibenci
hanya untuk berkongsi mutiara khatulistiwa yang jauh berbeza dengan mutiaramu .
mutiara yang kau kutip dari kehidupan yang jauh dari bumi sendiri tatkala diri terdampar di pesisir pantai Mediterranean.
Jauh di sudut hati terbit rasa cemburu terhadap syita’ dan
saifi yang engkau lalui . menikmati
pemandangan sebuah kota kerajaan
Fatimiyah sambil meneguk air azimat ilmu di tebing sungai Nil . merasakan
sejarah yang diukir oleh Jauhar al-saqali . subhanallah ! sedang aku ? masih
membina harapan melihat lazuardi Timur Tengah sambil menyitir debu kota Fustat
dan masih melakar satu jalur lintang ke Asia Barat yang jauh dari garis khatulistiwa .
Lantas engkau taburkan benih cinta
terhadap kota para wali Allah . menyaduri angan-angan berbaur ilusi menaiki
pesawat besi , menjengah langit bumi kinanah yang terik walau pijar membalut
tubuh , menyorot suasana khan al-khalili yang macet dengan ribuan warga abnaa’
un-Nil . aku terkesima . begitu indah ?
Engkau sekali lagi membawaku ke Bumi Busur itu untuk merasai
jerih seorang dagang . Soal susah , soal payah , itu lumrah . merintih waktu
merasakan diri jauh dari keluarga . Pernah berduka sewaktu jasad ditimpa sakit
. Rakyat Kinanah yang tidak lagi mempedulikan soal nabi mahupun wali setelah
dibutakan dengan materi . Kepincangan sana sini . walau melirih dalam kewalahan
yang mendudu , keberkatan bumi nabi Musa itu tidak menjadikan kau tewas malah
lebih teguh berdiri .
Di sebalik semua itu
, aku berdikit – dikit mengumpul sisa mutiaramu . sama ada yang berkilau ,
hatta yang kusam sekalipun . untuk ku jadikan satu titik . titik yang akan
membias menjadi tujuh warna spektrum kehidupan . satu titik yang akan mencapah
menjadi seratus jalur cerita . biarpun terkadang diksinya menabrak jiwa dan
atma . aku sedar manusia tidak sempurna . Hidup ini bukan untuk mencapai
kesempurnaan tetapi untuk menampung kekurangan .
Mutiaramu menjadi ayat – ayat cinta pada kota Nabi Yussuf .
Lantaran hati terpaut untuk membina sebuah jambatan ke sana . bersama azam yang
berdedai – dedai , aku mengimpikan untuk bersama 34 juta warga kota itu
bersimpuh di birai tabir telaga Al-Azhar
bagi menghilangkan dahaga
terhadap ma’rifatNya . kita masih muda , penuh dengan semangat serta keazaman .
Namun kita lupa dengan tribulasi sehingga memandangnya dengan mata yang separuh
terbuka .
Benar
kata orang , jika mahu mengejar sesuatu yang besar , kita akan diberikan ujian
yang besar . Adakalanya jiwa diusik , hati ditekan , fikiran dihentak ,
perasaan memberontak . kita terlalu yakin dengan binaan istana pasir sedang
kita lupa dengan kehadiran ombak . kita yakin impian menjadi kenyataan .
sedangkan takdir ? ya . kita alpa dengan takdir . Walau hati meredut memancar
luka pada epidermis jiwa , apa guna aku menjerit dan merengek jika tiada siapa
yang akan membantu ? apa guna memerih semerih hingga terjengil anak tekak jika
akhirnya aku yang sendiri tercungap-cungap mengubat diri ?
Yakinlah wahai diri ,
andai telah termaktub jodoh dengan bumi Kinanah itu , pasti akan terasa juga
elusan bayu di Matruh dan Siwa . Mata akan tertancap juga pada rona merah
ghurub mentari di pergunungan Sinai . pasti akan merasa juga halus dedebu pasir
kering di Sahara .
latest editting
10/6/12
3:19 pm
nur farahin binti noordin












