Sunday, June 10, 2012

ayat-ayat cinta kota Nabi Yusuf



 In the name of Allah the Most Gracious and the Most Merciful :)

Ini adalah catatan hati , ditulis daripada hati menggunakan uslubnya tersendiri . sebelum ia menyapa minda kalian , biarlah ia berteleku di jiwa agar damainya bersimpuh dan tenangnya melingkar . monolog tidak henti – henti  bercempera di kolong atma jika arca ini tidak dileburkan . biar panas kalimantang terasa perih di ubunku , puntung jari tetap setia menaip cebisan arca itu .



Bunyi angin bayu musim luruh membawa gemersik suaramu  walau hakikatnya engkau tidak pernah hadir dalam figura asal . Hanya aku yang bermain dengan illusi . jauh di kolong atma , aku merasakan engkau hadir dengan seribu persoalan . lantas , aku datang dengan wajah seorang kawan yang tidak minta dikasihi dan tidak minta dibenci hanya untuk berkongsi mutiara khatulistiwa yang jauh berbeza dengan mutiaramu . mutiara yang kau kutip dari kehidupan yang jauh dari bumi sendiri tatkala diri terdampar di pesisir pantai Mediterranean. 


 Jauh di sudut hati terbit rasa cemburu terhadap syita’ dan saifi yang engkau lalui . menikmati  pemandangan  sebuah kota kerajaan Fatimiyah sambil meneguk air azimat ilmu di tebing sungai Nil . merasakan sejarah yang diukir oleh Jauhar al-saqali . subhanallah ! sedang aku ? masih membina harapan melihat lazuardi Timur Tengah sambil menyitir debu kota Fustat dan masih melakar satu jalur lintang ke Asia Barat yang jauh dari garis khatulistiwa .


Lantas engkau taburkan benih cinta terhadap kota para wali Allah . menyaduri angan-angan berbaur ilusi menaiki pesawat besi , menjengah langit bumi kinanah yang terik walau pijar membalut tubuh , menyorot suasana khan al-khalili yang macet dengan ribuan warga abnaa’ un-Nil . aku terkesima . begitu indah ? 


Engkau sekali lagi membawaku ke Bumi Busur itu untuk merasai jerih seorang dagang . Soal susah , soal payah , itu lumrah . merintih waktu merasakan diri jauh dari keluarga . Pernah berduka sewaktu jasad ditimpa sakit . Rakyat Kinanah yang tidak lagi mempedulikan soal nabi mahupun wali setelah dibutakan dengan materi . Kepincangan sana sini . walau melirih dalam kewalahan yang mendudu , keberkatan bumi nabi Musa itu tidak menjadikan kau tewas malah lebih teguh berdiri .


 Di sebalik semua itu , aku berdikit – dikit mengumpul sisa mutiaramu . sama ada yang berkilau , hatta yang kusam sekalipun . untuk ku jadikan satu titik . titik yang akan membias menjadi tujuh warna spektrum kehidupan . satu titik yang akan mencapah menjadi seratus jalur cerita . biarpun terkadang diksinya menabrak jiwa dan atma . aku sedar manusia tidak sempurna . Hidup ini bukan untuk mencapai kesempurnaan tetapi untuk menampung kekurangan . 


 Mutiaramu menjadi ayat – ayat cinta pada kota Nabi Yussuf . Lantaran hati terpaut untuk membina sebuah jambatan ke sana . bersama azam yang berdedai – dedai , aku mengimpikan untuk bersama 34 juta warga kota itu bersimpuh di birai tabir telaga Al-Azhar  bagi  menghilangkan dahaga terhadap ma’rifatNya . kita masih muda , penuh dengan semangat serta keazaman . Namun kita lupa dengan tribulasi sehingga memandangnya dengan mata yang separuh terbuka .


 Benar kata orang , jika mahu mengejar sesuatu yang besar , kita akan diberikan ujian yang besar . Adakalanya jiwa diusik , hati ditekan , fikiran dihentak , perasaan memberontak . kita terlalu yakin dengan binaan istana pasir sedang kita lupa dengan kehadiran ombak . kita yakin impian menjadi kenyataan . sedangkan takdir ? ya . kita alpa dengan takdir . Walau hati meredut memancar luka pada epidermis jiwa , apa guna aku menjerit dan merengek jika tiada siapa yang akan membantu ? apa guna memerih semerih hingga terjengil anak tekak jika akhirnya aku yang sendiri tercungap-cungap mengubat diri ?




Yakinlah wahai diri , andai telah termaktub jodoh dengan bumi Kinanah itu , pasti akan terasa juga elusan bayu di Matruh dan Siwa . Mata akan tertancap juga pada rona merah ghurub mentari di pergunungan Sinai . pasti akan merasa juga halus dedebu pasir kering di Sahara .





latest editting
10/6/12 
3:19 pm
nur farahin binti noordin